Kamis, 24 November 2011

ANI-MEN

      Hai, kris balik lagi negh dengan sebuah persembahan. Ini cerbung kris yang pertama. Mohon responnya,biar semangat nerusinnya,hahaha. Ini dia ANI-MEN untuk kalian yang kris sayangi.  
Chapter 1 : Hurtful dove
      Dia berjalan gontai di hangatnya pantai kuta. Sesekali, ombak menghampiri lelaki itu. Berusaha menyentuh kakinya yang telanjang. Tapi karma tidak peduli apakah ombak itu mengenainya atau hanya mengecup tumitnya saja. Rasanya sudah hilang. Hilang bersama kenangan manis yang tersapu ombak. Dia hanya mengenang saja, karena hanya itu yang tersisa. Dia pergi bersama lelaki lain.
      Matahari hampir tenggelam, dan dia masih terduduk di hadapan sang surya yang tengah membenamkan diri di luasnya samudera hindia. Cantik sekali. Para wisatawan yang entah datang dari mana sibuk mengabadikan momen indah itu. Ada yang berfoto, ada yang mengambil rekaman video atau sekedar menulisnya dalam catatan kecil.  Karma sendiri yang tidak menghiraukan keindahan itu. Sudut matanya membasah, dia berusaha menahannya, namun gejolak di dalam dirinya lebih kuat. Semakin banyak air mata keluar dan dia pun akhirnya menyembunyikan wajahnya yang putih pucat di balik kedua lengannya, menelungkup dan menangis sepuasnya.
      Aku tidak menyangka sama sekali, kamu datang mengincar hatiku lalu lari. Meninggalkanku tanpa penjelasan, kenapa. Kamu bahkan sengaja menunjukannya padaku. Lari dengannya dan aku tertinggal disini dengan hati yang luka.  Aku sayang kamu, tapi kenapa???
      Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku ingin kamu kembali. Katakan apa yang kamu mau. Aku akan lakukan apa pun agar kamu kembali. Kamu harus tahu itu. Aku masih dan akan selalu cinta kamu.
      Karma terisak dan suasana sudah gelap sekarang. Dia pun memutuskan untuk pergi dari kenangan manis itu. Kenangan dimana pertama kalinya dia menyentuh jari sang kekasih, setahun yang lalu. Ikrar cinta yang disaksikan deru ombak dan megahnya matahari. Semua sudah berakhir. Tak ada lagi cinta, tak ada lagi kenangan manis,yang ada tinggal Karma sendiri dengan luka menganga di hatinya. Dia berjalan ke arah timur, menuju pelataran parkir. Tanpa disadarinya, sesuatu yang cepat menabrak dahinya dari arah atas. Kontan Karma tidak mampu menghindarinya. Dia terjengkal ke belakang, jatuh terlentang. Beberapa  detik kemudian dia baru mampu menguasai dirinya. Dia mencari apa gerangan yang telah menubruk dahinya sekeras itu. Dia perhatikan sekeliling, tidak ada orang yang bisa dijadikan tersangka. Dia memperhatikan sekitarnya lebih detil. Tak jauh dari tempatnya terjengkal, dia meihat sosok putih bergerak lemah. Se ekor merpati terlihat berusaha mengepakan sayapnya,namun gagal. Karma menghampiri merpati putih itu. Dia perhatikan sejenak untuk memastikan jika itu memang se ekor merpati. Dan ya, jelas sekali itu adalah merpati yang sayapnya terluka. Terlihat dari darah yang mewarnai sayap kiri sang merpati. Karma berpikir sejenak lalu memutuskan untuk membawa merpati itu pulang. Dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan tapi dia hanya melihat merpati itu masih hidup dan perlu perawatan. Merpati itu bergerak-gerak lemah lalu diam setelah Karma memeluknya dengan hati-hati.
      Karma memacu mobilnya dengan hati-hati. Sesekali dia menoleh ke arah merpati yang dia letakan di kursi di sampingnya. Dia melihat merpati itu masih bernafas. Karma pun lega. 30 menit kemudian, karma sudah tiba di apartemennya. Apartemennya berada di lantai tiga. Setibanya disana, segera dia menyiapkan kotak p3k. dia menuangkan alkohol 70% pada kapas lalu membersihkan luka-luka serta darah di bulu dan tubuh merpati itu. Si merpati menggelinjanng dan seakan nampak mengerang kesakitan, tapi Karma terus melakukannya. Setelah bersih, dia memberikan cairan iodine di atas lukanya lalu membalutnya dengan perban.  Dengan telaten dan hati-hati dia membalut luka merpati itu. Setelah selesai, Karma meletakan merpati itu di atas bantal yang biasa di gunakan kekasihnya. Tak ada gunanya juga menyimpan bantal itu. Dia tak akan kembali  . begitu pikir karma.  Dia pun meletakan bantalnya di sisi tempat tidur tempat biasanya sang kekasih berbaring. Si merpati terlihat tenang sekarang. Matanya menutup dan nafasnya teratur. Karma memperhatikan merpati itu sampai dia pun tertidur. Karma dan merpati itu berbagi ranjang sekarang, karma seakan lupa pada perihnya luka yang dia miliki, melihat merpati itu tertidur dengan tenang.
      Jam 11 siang, waktu yang telat untuk berangkat kerja, karma pikir. Dia masih menatap merpati yang terkulai lemas di atas bantal di sampingnya. Merpati itu terlihat menggerakan tubuhnya, sayapnya. Dia berusaha mengembangkan sayapnya namun gagal. Karma menjulurkan tangan kirinya, mengembangkan jemarinya lalu mengelus-elus kepala merpati itu. Dan merpati itu kembali tenang.
      ‘’Kamu masih sakit, jangan banyak gerak dulu yah. Kamu pasti haus, sebentar aku ambilkan air ya,’’
       Lalu karma bangkit,keluar kamarnya. Tak lama dia kembali dengan semangkok air di tangannya. Dia tidak mengerti bagaimana menyuapi se ekor burung, lalu dia ber-inisiatif untuk meneteskan air itu ke mulut merpati itu. Satu dua tetes berhasil masuk ke mulut merpati itu. Dia begitu menikmati tiap tetes yang dijatuhkan karma ke mulutnya. Merpati itu kemudian bergerak agak kuat. Air yang diberikan Karma membuatnya merasa segar. Karma tersenyum melihatnya.
       ‘’Hey, kamu sudah segar sekarang. Tapi, jangan banyak gerak dulu. Lukamu masih belum sembuh.  Kau makan ya,’’
Karma menyodorkan remah-remah biskuit coklat diatas telapak tangannya. Merpati itu pun memakan remahan biskuit itu. Hampir setengah dari remahan itu masuk ke perut merpati itu. Dan dia pun berhenti. Dia merasa kenyang mungkin. Lalu karma kembali meneteskan air ke mulut merpati itu. Lagi dan lagi.
       ‘’Mudah juga merawat burung. Kamu sudah kenyang ya. Sekarang istirahat sampai lukamu sembuh,’’
Ujar Karma seraya menarik kain menutupi tubuh merpati itu. Merpati itu pun diam saja. Dia napak bernafas dengan teratur, berusaha melelapkan diri.
       Tuuuut! Tuuuuut! (suara telepon diangkat)
       ‘’Jenny’s skincare,my I help you,’’ sura perempuan terdengar di seberang sana.
       ‘’hey, Metha, ini aku Karma. Sori aku ga bisa masuk hari ini,’’
       “kenapa lu?’’
       ‘’sakit, aku baru bangun nih,’’
       ‘’ok deh, tapi jangan lupa surat keterangan dokternya. Nanti kena es pe lho. Udah tiga kali kamu mangkir gawe tanpa alasan.,’’
      ‘’iya iya, cerewet,’’
      ‘’eh, kamu baik-baik aja kan?’’
      ‘’ya, aku baik. Kenapa?’’
      ‘’jangan pura-pura deh, aku tau kamu baru putus ama si..siapa itu…sudahlah, bagus kalo kamu baik-baik aja. Ada telpon masuk. I’ll hung you up’’
      Tuuuuuuuuuuuut!!!!!
      Suara itu menutup perbincangan Karma dengan rekan kerjanya. Untuk sementara karma tertegun, dia ingat kembali kejadian itu. Kekasih tercinta, lari dengan laki-laki lain. Tanpa alasan, tanpa pemberitahuan, hanya di putus sepihak. Tapi nampaknya dia tidak peduli lagi. Dia kembali ke kamarnya untuk melihat merpati itu. Di atas bantal sana merpati itu Nampak tertidur.
***
       Hari ini Karma berencana untuk membiasakan diri melakukan rutinitas,sendiri. Sulit memang, ketika kamu terbiasa melakukan rutinitas itu berdua bersama si dia. Bayangkan saja, kamu biasa berada depan meja makan dengan piring kosong, lalu dia menuangkan sup kacang merah panas nan lezat kesukaanmu. Sekarang kamu tidak punya petunjuk apa itu kacang merah. Lalu kamu sibuk mencari dimana letak sepatumu tersimpan karena dia yang rapi menyimpannya di tempatnya. Kamu belum mengambil laundry pakaianmu, dan dimana tempat laundry itu??? Dan lain sebagainya. No, kamu tidak akan terbiasa melakukan ini sendirian. SIALAN. Gumam karma seketika. Dia terduduk di depan sofa, yang sialnya masih terbiasa duduk disini kiri,karena disisi kanan selalu dia yang menempati. Dia berpikir sejenak, lalu bangkit dan meraih kunci mobil serta dompetnya.
       Dia mengendarai mobilnya,berkeliling kota mencari toko makanan burung. Setelah mendapatkannya, hari sudah siang. Dia lalu pergi menuju restaurant tempat favoritnya, CafĂ© Steak. Jam menunjukan pukul 11.36 dan kafe itu belum penuh di pengunjung.  Karma masuk kesana lalu duduk di sudut kafe. Seorang karyawan menghampiri dengan membawa buku menu.
       ‘’selamat siang,kak. Tumben sendirian, pacarnya mana?’’ karma baru sadar kalau dia datang sendiri. Dia tersenyum lalu menjawab sekenanya.
       ‘’dia kerja,’’ pelayan tu hanya bereaksi sedikit. Lalu dia menyerahkan buku menu sambil berkata,
       ‘’ Kita punya menu spasial hari ini, steak tuna--’’ Belum selesai pelayan itu menyebutkan menu spesialnya, karma sudah menyela.
       ‘’aku minta yang biasa aja,’’
        ‘’ooh,ok. Sirloin steak with brown sauce welldone dan watermelon juice,’’ karma mengangguk.  Si pelayan beranjak pergi tapi karma memanggilnya kembali.
        ‘’Andi!!!’’
       ‘’ya, ada apa kak?’’
       ‘’bisa kamu bawakan saya rokok mild serta korek apinya?’’
       ‘’kakak merokok lagi?’’
       ‘’lagi pengen aja, ‘’
      ‘’ok’’ kata pelayan bernama Andi dengan mimic heran. Andi menyerahkan orderan ke bar lalu kembali ke meja karma membawakan sebungkus rokok putih serta korek apinya. Lalu dia duduk si samping  karma.
      ‘’ada masalah ya kak?’’
      ‘’ga ada, emang kenapa?’’
      ‘’2 taun lho kakak berenti merokok. Koq sekarang merokok lagi. Pasti ada sesuatu ya kak,’’
      ‘’ah, kamu ini sok tau aja. Ga ada apa dek,’’
      ‘’ya, kalo kakak ada masalah,kakak boleh sharing ma Andi. Cerita ajah, siapa tau masalahnya bisa selesai,’’ Andi berkata seperti itu sambil meninggalkan karma. Dan 15 menit kemudian pesanan tiba. Karma malas-malas menikmati steak itu, padahal biasanya dia bahkan tidak akan berbagi dengan siapa pun kalau soal steak. Andi memperhatikan dari jauh dan dia pun mengerti, ada masalah dalam pikiran karma.
       Karma kembali ke apartemennya. Hal pertama yang dia lakukan adalah melihat merpati itu di kamarnya. Dia baru merasa lega setelah melihat merpati itu ada disana, terbangun namun lemas. Segera karma menyuapi merpati itu dengan makanan burung yang baru di belinya. Aneh, merpati itu enggal memakan makanan burung itu.
      ‘’kenapa,kamu ga suka makanan ini? Hmmm, kamu mau biskuit lagi?’’ kata Karma sambil menatap kepala merpati itu. Merpati itu diam saja. Karma pergi ke dapur, mengambil biskuit coklat yang dia berikan pada merpati itu kemarin. Dia hancurkan biskuit itu lalu menaruhnya kembali di telapak tangannya dan siap menyuapi merpati itu. Dan,memang benar saja. Merpati itu sangat suka pada biskuit itu ketimbang makanan burung yang di beli Karma. Setelah biskuit itu habis, lalu kembali Karma memberinya tetes –tetes air di atas paruhnya dan megelus-elus kepala merpati itu.  
      Merpati itu menyita perhatian Karma untuk tiga hari ini. Setiap jam istirahat dia menyempatkan diri menengok merpati itu di apartemennya, menyuapinya makanan lalu dia pergi makan siang. Dan sepulang kerja pun dia tidak pergi kemana-mana. Dia di rumah, menonton tivi ditemani merpati yang kiranya lukanya sudah kering dan hampir sembuh. Tak ada kesedihan Nampak di wajah Karma. Dia kembali. Luka di hatinya telah sembuh.
***
      Hujan besar. Bahkan disempurnakan dengan mati lampu. Karma sudah terlelap. Diantara kegelapan itu, dari tubuh merpati itu terpancar setitik cahaya. Lama kelamaan, cahaya itu membesar dan membesar hingga seperti menelan tubuh merpati itu, atau merpati itu berubah menjadi cahaya?. Cahaya itu menggelinding jatuh dari ranjang. Karma terbangun, dia tak kuasa menatap silaunya cahaya di hadapannya. Dia terbangun sambil menyembunyikan matanya. Perlahan dia melihat bayangan di balik cahaya yang sekarang sudah setinggi 2 meter. Cahaya itu perlahan meredup, menyusut lalu membentuk suatu imej tubuh, tubuh seorang pria yang sekarang semakin jelas. Cahaya itu sudah hilang berganti dengan sesosok pria, tegap, berkulit putih, berwajah tampan bak malaikat dengan mata birunya serta rambutnya yang pendek ke emasan. Dan, pria itu mempunyai kejutan lain. Dia memiliki sayap besar di punggungnya, putih dan kokoh,mengembang selebar dua meter. Karma hanya bisa menganga menyaksikan ini semua, lalu dia pun jatuh pingsan.

Bersambung…….

Jumat, 04 November 2011

PART TIME HUSBAND

      She screamed at loud from the bathroom. I knew what had happened., cuase I had a tought about it. One friend ran to see her. I heard her sobbed. Tears fell from her eyes but she hid it over friend shoulder. Woman, it`s your destiny to get pregnant the give a birth. But it was different. She was still single and never got married before.  Then, how she made that pregnant test turned positive?
***
      Annie, that was her name. she was pretty, beautiful, she had long hair about her waist in brown colour. Her figure was small, and she kind of quiet. She was my dream girl. I adored her since the first time I met her. She was work as a therapist and I work as a cashier in this company. An exclusive spa with a high rank service which you would never find in any place  around.  Pretty girls, cozy place, great view. You all men would feel like in cloud #9 if you were a costumer. And there wasn’t Annie herself, almost girl in this spa were beautiful.  Just like angels in heaven. I felt like in heaven as well, and would rather to work 24 hours if they allow me. But there was only Annie who touch my heart. Made me shiver ,made me blind. Don’t ask me why, I didn’t know the answer too.
      Still with her eyes full of tears,  Annie came with her one of the best friend here, Silvia. They went to one of our massage room. I saw her face very pale. I heard them whispered and annie went cry again. Silvia seemed try to comfort her. It was morning time, my manager hadn’t come yet. I was sure next step annie would ask for permission to go home. After  I wouldn’t   know. What I wish was that she cry over my shoulder, get close to her, hold her, comfort her. But Annie never knew I exist. It was only in the morning time when we met and say ’good morning’  but she didn’t look at me. I wanted her to look at me once.
      Reservation at 9 am, five costumers from japan had arrived. Annie and silvia soon got out from the room and ready to handle the costumers. It was three hours treatment , I brought them to their room and called the other girl in the back. Silvia said to me that Annie might not be able to handle the costumer  but I pretended not know what happened to her. At last, Annie had to handle that costumer for next three hours.
      I hated this feeling.  I cared about her, but she didn’t aware that I care. I was a coward for not let her know how I feel for her.  Beside, she already had a boyfriend. I knew it because he always  pick her up when her work time finished. A big strong man, he had tattoo all over his arm maybe his body as well.  And now I want to know if he really a man, who dare to take responsible for the seed he put in her womb. I hope so, then it will made him a real man with responsible.
      Three hours passed, manager had arrived, and I saw annie took her stuff in her bag. She changed her uniform and ready to go home.  Finally she decided to go home. Silvia escorted her to the front door and I heard her whispered over Annie’s ear,” calm down we figure out the way to solve this,” and annie just nodded. I saw her small figure vanished behind the door, and I felt hurt. It supposed to be me who had the sympathy, made her strong, cheer her. No need to hold her, to make her smile again I dare to be a clown. But I still a coward who lack of courage.  I daydreamed on from of the computer, my manager shook me and realized it was working time. and I called it a day at 5, went home wth Annie playing around inside my mind. She was everywhere. I crazy about her. She made me crazy.
      Back to my small room. Turned the tv and took my dinner.  My phone ringing.it was Silvia calling.
‘’halo Silvia,what’s up?’’ I said over the phone while I drank a glass of water.
‘’sorry,it’s Annie speaking. Not Silvia,’’ I choked to hear that. I almost vomited what I had eat because of that.
‘’hey…!!!’’ I said while still struggled to sound like it was nothing happen. Then I continued,
‘’I thought you were Silvia. What a surprise,’’
‘’yea, I call over Silvia’s phone cause I don’t have your number. Are you free this night?’’
‘’what do you mean?’’
‘’I would like to ask you a favor. If you don’t mind,’’ I sat silent. Then she said again,
‘’alright, you maybe busy tonight. Thank’s for your time,’’
‘’wait…wait. Yea, I mean no, I don’t mind. What is it?’’
‘’come over Silvia’s house. We can speak about it here,’’
‘’alright, 30 minutes,’’ she hung up. I grabbed my shirt and jeans, wore it. Put on helmet and went to Silvia’s house. I was so happy to know that annie aware about me. I was wrong, she never take me for granted. I coming darling, wait for me.
      Less than 30 minutes I arrived at Silvia’s. I saw them sit down and having a chat. Silvia smiled at me so do annie.
‘’how fast you are, thought you will arrive next hour,’’ Silvia said.
‘’hahaha, it’s nothing,’’I said.
‘’come in,we talk inside,’’ I followed her inside. Annie sat in front of me.  And we had this conversation.
‘’we need your help,’’
‘’what help?’’
‘’can you keep a secret?’’
‘’sure, you can count on me,’’
‘’ok, keep this silent. Annie is pregnant. Sow e figure out to let go the baby,’’
‘’do you mean abortion?’’
‘’exactly, that’s why we need your help,’’
‘’but why you want to let it go? It’s a crime. And it may not be save too,’’
‘’listen, I know doctor who can do it, please, we don’t need lecture now. We know it’s bad but Annie don’t want this baby now,’’
‘’then when?’’
‘’after she got married of course,’’
‘’then get married, that’s better,’’
‘’her boyfriend is not ready. Come on, Eddy ! we don’t need a lecture now,’’ I stay silent. Fuck!, I always disagree about it. I hate when I heard news from the tv or paper said that had been found a death new born child in the river, in the garbage, in the toilet, everywhere. Did this baby made a crime to born this way? I always cursed every mum, every doctor, every man who committed abortion. Now I had to be the part of this crime? I saw Annie stand up and said,
‘’it’s alright, you don’t have to do it if you don’t want it. I made mistake to summon you here…’’ I shocked a hell out. She mad at me. What do I do now.  First counter with her and this was what I got. Then Silvia came approach me. She was like,
‘’we pay you as soon as it all done,ok? Just assume that we hire you as a part time husband. Until the abortion done. How about that?’’ I couldn’t say no. I just nodded. I went to bathroom, vomited, it hurted my soul . then I came back and Annie ready. She handed me the address then we went to the place written there.
      We arrived there in 45 minutes.  I saw three couples sat their back on the couch available. I knew they were married cause they seemed to be pregnant for 4 to 7 months according to the lady’s stomach. But,us. I felt like they undressed us, undressed me by their stare.  But for Annie sake, I got to through it all. At least that what I can do for now.
     Our turn. I pretend as Annie,s husband. Told the doctor that we were too early for having a baby. we were working so no chance for us to carry baby for now. The doctor pay time for thinking. He then agreed to do the procedure with high price. No problem for Annie, she already prepared. 3,5 million in exchanged of abortion. We were await again until last patient done. At 9 pm, the procedure started. I wait for around 30 minutes and it all done. I saw her face very pale. As white as damned angel. No, she wasn’t an angel now. She was devil in disguise.
  

      I didn’t know what had happened to me. I was lost. I didn’t bring her to her house or silvia’s house. I asked her to come with me. Yea, come with me to the place where I used to spend the night when I feel depress. To the cliff. It located only 25 minutes from where we were. She looked so weak but she said yes. And we arrived there. We sat together side by side. My vision soared around the ocean on front of me. Annie didn’t say a thing. She looked so weak so she just did what I told. I wanted to say a thing to her so I got closer. I whispered on her ear,’’I love you,’’ just like that. Annie looked shock about it, as I expected. Then I put my right hand on her mouth, fall her down, pressed her so hard. I didn’t let her breathe at all. My left hand grabbed a thing behind my pant. A knife which I took from silvia’s kichen when I go to the toilet back there.  Then I stabbed her, 3, 4 times. She tried to scream but my hand so strong  hold her mouth shut. She dropped tears, tried so hard to free her self but she failed. She didn’t move. She died. Yea, die you bitch. You deserved this. You kill your own baby. now  your baby made it revenged.  I love you but you didn’t even love your baby.  Murderer.
I was run out of time. I carried Annie’s dead body. I went to the tip of the hill. Looked down, many rocks down there. I couldn’t think no more but said
Annie I love you
Then we jumped down.